Pamg cang sukses

Archive for Mei 28, 2012

DOKUMEN-DOKUMEN PENGAPALAN

DOKUMEN-DOKUMEN PENGAPALAN

 

Dokumen-dokumen yang dipergunakan dalam proses pengapalan barang, khususnya pengapalan ekspor dari satu negara ke negara lain dinamakan dokumen pengapalan atau shipping documents, yang mempunyai fungsi :

  • Melindungi muatan mulai sejak dipersiapkan untuk dimuat ke dalam kapal di pelabuhan pemuatanya sampai muatan itu diserahkan kepada pemiliknya atau mereka yang berhak atas penerimaan barang di pelabuhan tujuan.
  • Menyatakan hak milik atas barang yang diangkut oleh kapal serta hak-hak lain yang timbul sebagai akibat dari pengangkutan itu.

Dari keterangan diatas jelaslah bahwa dokumen pengapalan merupakan dokumen yang mempunyai nilai perdagangan, yaitu surat-surat yang dapat diperdagangkan yang terdiri dari :

  1. Faktur dagang (Comercial Invoice) dan Packing List.
  2. Konosemen (Bill of Lading).
  3. Polis asuransi Laut (Marine Insurance Policy}

Dalam hal dokumen pengapalan B/L yang merupakan dokumen yang terpenting bila dibandingkan dengan kedua lainya, karena B/L mencakup dua kepentingan, yaitu kepentingan perniagaan dan kepentingan pengangkutan barang yang disebut didalam B/L yang bersangkutan.

Menurut pasal 506 KUHD-RI konosemen adalah suatu surat yang diberi tanggal dan ditandatangani, yang menerangkan bahwa pengangkut sudah menerima barang dengan maksud untuk diangkut ke tempat tujuan yang ditunjuk, juga dengan perjanjian bagaimana penyerahan akan dilakukan.

Selanjutnya ayat (2) dan (3) dari pasal tersebut mengatakan bahwa konosemen tidak perlu hanya menyebutkan nama tertentu kepada siapa barang harus diserahkan, melainkan juga dapat disebutkan order, yang berarti bahwa pemegang konosemen dapat mengalihkan hak untuk mengambil barang.

FUNGSI BILL OF LADING ( KONOSEMEN)

Bill of Lading atau Konosemen merupakan dokumen muatan yang disediakan oleh pengangkut yang dibuat dan diselesaikan di pelabuhan muat. B/L untuk pengangkutan melalui laut disebut Marine B/L atau Ocean B/L dan mempunyai fungsi :

1.   Surat Perjanjian Pengangkutan (Contract of afreightment)

Yaitu kontrak antara shipper (eksportir) dengan carrier (pengusaha kapal) untuk mengangkut barang dan diserahkan kepada Consignee (importir) dipelabuhan tujuan dalam keadaan seperti pada waktu diterima dari eksportir.

2.    Tanda Bukti Penerimaan Barang (a receipt for the goods)

Yaitu sebagai tanda menerima barang dari shipper (eksportir) untuk diangkut dan diserahkan kepada consignee dipelabuhan tujuan.

3.    Tanda Bukti Hak Milik (a Document of title).

Yaitu sebagai tanda bukti hak milik atas barang-barang yang tercantum didalamnya.

4.     Kwitansi Pembayaran Uang Tambang (freight)

Didalam B/L dicantumkan pula besarnya freight yang harus dibayar oleh para shipper. Disamping itu dapat pula dicantumkan perjanjian pembayaran dilakukan di pelabuhan tujuan.

MACAM-MACAM BILL OF LADING

1.       Original Bill of Lading.

Adalah lembaran asli dari B/L yang merupakan hak milik atas barang-barang yang telah dikapalkan. Biasanya banyaknya lembar B/L asli dicantumkan didalam B/L.

2.       Negotiable Bill of Lading.

Adalah B/L yang dapat diperdagangkan dengan cara endorsemen, yaitu memindah tangankan hak atas barang-barang yang tercantum dalam B/L tersebut.

3.       Straight Bill of Lading.

Adalah B/L atas nama yang tercantum didalamnya sebagai penerima barang (consignee). B/L ini tidak dapat diperdagangkan atau diendosir kepada orang lain.

4.       Order Bill of Lading.

Adalah B/L atas perintah (order) yang menyatakan bahwa barang-barang yang telah dikapalkan akan diterima dipelabuhan tujuan atas perintah dari seseorang (shipper) yang namanya tercantum didalam B/L tersebvut.

Penerima barang (consignee) dipelabuhan tujuan dapat mengendosir B/L tersebut kepada orang lain, yaitu memindah tangankan hak atas barang-barang yang tercantum didalam B/L tersebut dengan cara mengendosir.

5.       Trough Bill of Lading.

Adalah B/L yang dipergunakan untuk pengangkutan barang-barang yang diangkut oleh pengangkut pertama (first carrier) dari pelabuhan pertama (first port) yang kemudian diteruskan pengangkutanya (transipped) oleh kapal lain (second carrier) dipelabuhan kedua langsung kepelabuhan tujuan.

6.       Clean Bill of Lading.

Adalah B/L bersih, yaitu B/L atas barang-barang yang telah dimuat keatas kapal dalam keadaan baik sesuai yang tercantum di dalam B/L tersebut. Ini berarti tidak terdapat catatan atau remarks pada resi Mualim (Mate’s Receipt).

7.       Foul Bill of Lading.

Adalah B/L kotor, yaitu B/L atas barang-barang yang dimuat keatas kapal tidak sesuai dengan yang tercantum didalam B/L tersebut. Dengan demikian didalam B/L itu terdapat catatan-catatan mengenai perbedaanya, yaitu mengenai kerusakan, colli, merek tidak cocok, kekurangan dll.


SISTEM ANGKUTAN PETI KEMAS

SISTEM ANGKUTAN PETI KEMAS

Penggunaan peti kemas untuk angkutan barang telah berkembang pesat sejak dasawarsa tujuhpuluhan. Indonesia sudah ikut melibatkan diri dalam sistem angkutan peti kemas yang sudah berkembang luas dalam pola angkutan di dunia sebagai bagian dari perkembangan teknologi maju yang mencari upaya untuk mendapatkan efesiensi optimal. Peti kemas secara umum dapat digambarkan sebagai gudang yang dapat dipindahkan, yang digunakan untuk mengangkut barang, merupakan perangkat perdagangan dan sekaligus juga merupakan komponen dari sistem pengangkutan. Oleh karena komoditi yang diperdagangkan dalam perdagangan dunia jenisnya beraneka ragam, demikian juga arah pengangkutan dan sarana penunjangnya berbeda-beda, maka jenis peti kemas yang diperlukan bagi pengangkutan barang antar negarapun berbeda-beda pula. Jenis peti kemas yang banyak digunakan dalam perdagangan impor-ekspor adalah sebagai berikut :

a. Dry Cargo Container
Jenis peti kemas ini digunakan untuk mengangkut general cargo yang terdiri dari berbagai jenis barang dagangan yang kering      yang sudah dikemas dan tidak memerlukan perlakuan atau penanganan khusus.
b. Reefer Container.
Jenis peti kemas ini digunakan untuk mengangkut barang yang harus dikapalkan dalam keadaan beku seperti ikan segar, daging hewan dll.
c. Bulk Container
Peti kemas ini digunakan untuk mengangkut muatan curah seperti beras, gandum yang tidak dikemas. Konstruksinya tidak menggunakan pintu seperti lazimnya, melainkan hanya bukaan kecil dibagian bawah belakang. Untuk membongkar muatan curah, bagian depan peti kemas didongkrak dan pintu/bukaan kecil dibuka supaya muatan meluncur keluar. Pada pemuatanya, barang dicurahkan melalui bukaan yang berada pada atap peti kemas.
d. Open-side Container.
Peti kemas ini pintunya disamping, memanjang sepanjang peti kemas, tidak diberi pintu melainkan hanya terpal saja guna melindungi muatan dari pengaruh cuaca. Penggunaanya untuk pengapalan muatan tertentu yang tidak dapat atau sulit dimasukkan dari pintu yang biasa.
e. Soft Top Container.
Jenis peti kemas ini terbuka pada bagian atasnya, dari mana muatan diletakkan ke dalam peti kemas dan diambil dari sana pada  pembongkaranya. Bagian atas tersebut biasanya ditutup dengan terpal, untuk melindungi muatan terhadap pengaruh cuaca.
f. Open Top, Open Side Container.
Peti kemas ini bagian atas dan sisi-sisinya terbuka, jadi hanya berupa geladak dengan empat tiang sudut dan empat set lubang untuk memasukkan locking pin. Penggunaanya untuk pengapalan barang berat yang tidak perlu mendapat perlindungan terhadap
pengaruh cuaca.
g. Flat Rack Container
Peti kemas ini hanya terdiri dari landasan (plat form) saja, dan penggunaanya untuk pengapalan barang berat yang ukuranya sedikit melebihi luas peti kemas. Di kapal kontainer ini dikapal pemuatanya diletakkan diatas geladak.
h. Tank Container Jenis peti kemas ini berupa tanki baja berkapasitas 4.000 galon ( 15.140 liter) yang dibangun di dalam kerangka peti kemas, mirip seperti tanki yang dimasukkan kedalam peti kemas jenis open top-open side. Tank Container digunakan untuk mengapalkan bahan kimia atau bahan cair lainya.

UKURAN PETI KEMAS

Ukuran-ukuran peti kemas juga beraneka ragam, disesuaikan dengan sistem pelayaran serta trayek atau jurusan yang harus ditempuh oleh komoditi yang dikapalkan dengan menggunakan peti kemas dimaksud. Dari berbagai macam ukuran peti kemas tersebut, yang umum digunakan dalam perdagangan internasional di Indonesia adalah peti kemas 20 feet dan 40 feet. Adapun ukuran dan kapasitas selengkapnya dari peti kemas adalah sebagai berikut :

Klik Di sini =>>>  “UKURAN PETI KEMAS“<<<=

SISTEM PENGAPALAN PETI KEMAS

      Penerapan sistem pengangkutan dengan menggunakan peti kemas memungkinkan pengapalan door to door service, artinya bahwa pengapalan yang berlangsung dari pintu gudang eksportir dan berakhir pada pintu gudang importir, diurus/diselenggarakan oleh satu tangan.
Eksportir dan importir disatu pihak hanya berhubungan dengan satu perusahaan pengangkutan saja, tanpa mengingat bahwa barang yang mereka perdagangkan itu pengangkutanya secara fisik dilaksanakan oleh dua atau lebih perusahaan pengangkutan. Dalam rangka penyerahan door to door tersebut masing-masing pengangkutan menggunakan sarana transportasi yang berbeda-beda seperti truck, kereta api, kapal laut domestik, kapal laut ocean going, dimana sistem pengangkutan yang menggunakan berbagai macam sarana angkutan ini lazim disebut Multi Modal Transportation system. Pengangkutan yang melibatkan beberapa jenis sarana angkutan tersebut, sudah barang tentu memerlukan sistem kerjasama yang rapi agar tidak terjadi hambatan dan kerancuan dalam pelaksanaanya.
Sehubungan dengan itu maka sistem pengangkutan door to door service merupakan suatu sistem pengangkutan terpadu yang menekankan kerapian kerjasama antara jenis sarana angkutan satu dengan lainya. Untuk pengangkutan sambung menyambung yang melibatkan beberapa jenis sarana angkutan tersebut, hanya digunakan satu bill of lading saja yang disebut Combined Transport Bill of Lading yang dikeluarkan oleh ocean carrier.
Kondisi Pengapalan Peti Kemas
Pengapalan muatan dengan menggunakan peti kemas dapat diselenggarakan dalam beberapa cara dan kondisi sebagai berikut :

1. CY to CY (container yard to container yard)
Dalam kondisi CY to CY ini perjalanan peti kemas bermula dari CY di pelabuhan pemuatan dan berakhir pada CY di pelabuhan tujuanya. Dengan demikian peti kemas yang disiapkan di CY sudah berisi muatan karena sudah dilakukan stuffing di luar pelabuhan, jadi kondisi pengapalanya bisa juga disebut FCL to FCL (full container load to full container load).
2. CFS to CFS (Container freight Station to Container Freight Station)
Dalam kondisi ini maka peti kemas diisi muatan digudang CFS pelabuhan pemuatan, dari mana petikemas langsung dimuat ke kapal dan setibanya di pelabuhan tujuan, setelah dibongkar dari kapal langsung diangsur ke gudang CFS untuk di stripping.
3. CFS to CY (Container Freight Station to Container Yard).
Pada kondisi ini maka muatan di stuffing digudang CFS pelabuhan pemuatan dan setelah tiba dipelabuhan tujuan, langsung ditimbun di dilapangan penumpukan CY yang bersangkutan menunggu dikeluarkan oleh pemilik barang. Kondisi pengapalan ini terjadi bila beberapa shipment break bulk dikapalkan kepada satu consegnee, yang disebut juga LCLto FCL.
4. CY to CFS (Container Yard to Container Freight Station).
Pada kondisi ini peti kemas sudah di staffing di luar pelabuhan dan disiapkan di CY untuk dimuat dan sesampainya dipelabuhan tujuan langsung diangsur ke gudang CFS setempat untuk di stripping. Barang akan diambil oleh consignee masing-masing yang mempunyai Cosolidated Ocean Bill of Lading. Kondisi pengapalan ini terjadi bila seorang shipper mengapalkan beberapa shipment LCL kepada beberapa orang cosignee

PENGAPALAN MUATAN

Dalam pengangkutan dilaut, proses pengapalan (pengiriman) muatan sudah dimulai sejak Pembukuan muatan atau booking of cargo baru mengikat pengangkut kalau pembukuan itu oleh pengangkut telah dinyatakan diterima (accepted), dimana pernyataan itu dapat dibuktikan pada pendaftaran/pencatatan dokumen Shipping Instruction oleh pengirim atau ekspediturnya kepada pengangkut atau agenya. Namun demikian haruslah diingat bahwa SI bukan merupakan suatu dokumen yang mempunyai
kekuatan hukum. SI yang disebut juga Shipping Order (SO) tidak memuat ketentuan-ketentuan tentang hak dan kewajiban pihak-pihak didalam kegiatan pelayaran niaga tersebut. Shipping Instruction hanyalah satu tanda bukti telah dimulainya suatu hubungan hukum dan hubungan itu secara prinsip baru terjadi setelah proses pengapalan dimulai, yaitu setelah pemuatan barang ke kapal atau sejak persiapan-persiapan kearah itu dilakukan. Berbagai Istilah Yang Umum Dalam Operasional Peti Kemas
1. Full Container Load (FCL)
Dalam kondisi ini pengisian barang kedalam peti kemas dan menghitung jumlah barangnya dilakukan oleh shipper (eksportir), dan setelah diangkut ke pelabuhan diserahkan kepada pengangkut di Container Yard (CY).
2. Less Than Container Load (LCL)
Stuffing dilakukan oleh pengangkut di CFS, dimana muatanya diterima dari shipper. Pada kondisi ini biasanya muatan terdiri dari berbagai shipper untuk berbagai consignee di pelabuhan tujuan yang sama. Penyerahan barang dipelabuhan tujuan dilakukan di CFS setelah dilakukan stripping.
3. Depo Container
Adalah tempat penumpukan peti kemas kosong, berupa sebuah lapangan penumpukan yang diusahakan oleh seseorang atau badan usaha, dimana ditempat tersebut ditimbun peti kemas kosong dari berbagai pemilik untuk sewaktu-waktu sesuai DO yang
diserahkan peti kemas tersebut diambil untuk digunakan.
4. Equipment Interchange Receipt (EIR)
Merupakan dokumen sebagai hasil survey dan mencatat keterangan mengenai kondisi atau kerusakan pada bagian peti kemas, pada saat penyerahan atau peralihan tanggung jawab. EIR harus ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu yang menyerahkan dan yang menerima.

Alat Meanis Container


UKURAN PETI KEMAS

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

<<<Back>>>


Sampingan

BENTUK-BENTUK P…

ImageImageImageImageImage

BENTUK-BENTUK PENGUSAHAAN KAPAL NIAGA
Berdasarkan luas wilayah operasi dikenal adanya bentuk-bentuk usaha pelayaran :
  1. Pelayaran lokal, yaitu pelayaran yang bergerak dalam batas daerah atau lokalitas
tertentu didalam satu propinsi atau dalam propinsi-propinsi yang berbatasan.
  2. Pelayaran Nusantara, atau pelayaran interinsuler, yaitu perusahaan pelayaran
meliputi seluruh wilayah perairan Indonesia tetapi tidak sampai menyeberang ke luar
wilayah teritorial Indonesia.
  3. Pelayaran Samudera, yaitu jenis usaha pelayaran yang beroperasi dalam perairan
internasional, bergerak antara satu negara ke negara lainya untuk mengangkut barang
impor dan ekspor dari dan ke negara-negara tertentu di dunia.
Pembagian jenis usaha pelayaran berdasarkan sifat atau pelayanan yang diberikan :
  1. Liner Service (pelayaran tetap)
Yaitu pelayaran yang dijalankan secara tetap dan teratur, baik dalam hal kedatangan
maupun keberangkatan kapal di/dari pelabuhan, dalam hal trayek, dalam hal tarif
angkutan serta dalam hal syarat-syarat dan perjanjian pengangkutan.
Freight conference adalah persekutuan perusahaan-perusahaan pelayaran liner service
antar benua yang melayani trayek tertentu, untuk bekerjasama dalam mengatur masalahmasalah
:
  a. Penetapan tarif angkutan pelayaran samudera.
  b. Pembagian alokasi muatan diantara para anggota conference.
  c. Penetapan syarat-syarat dan perjanjian pengangkutan yang dikehendaki untuk
diterapkan atau dipergunakan dalam trayek pelayaran yang bersangkutan.
Rate agreement adalah persekutuan perusahaan-perusahaan pelayaran liner service antar
benua yang melayani jalur pelayaran tertentu, yang bekerjasama hanya dalam masalah
penetapan tarif angkutan dan syarat-syarat perjanjian pengangkutan saja.
Timbulnya freight conferernce dan rate conference adalah sebagai akibat dari persaingan
yang tajam antara para pengusaha pelayaran itu sendiri, baik pengusaha liner service
melawan trampers maupun antara liner service sendiri.
  2. Tramper Service (pelayaran tidak tetap)
Yaitu bentuk usaha pelayaran bebas, yang tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan formal
apapun. Kapal-kapal yang diusahakan dalam pelayaran tramper tidak mempunyai trayektrayek
tertentu, jadi kapal itu berlayar ke mana saja dan membawa muatan apa saja
sepanjang tidak dilarang oleh kekuasaan negara.
Usaha tramping dapat dijalankan dengan biaya yang relatif rendah sehingga tarif
angkutan yang dikenakan oleh perusahaan tramp ini tergolong rendah.
JENIS-JENIS MUATAN KAPAL NIAGA
Muatan kapal laut dapat dibeda-bedakan menurut beberapa penggolongan sesuai dengan jenis
muatanya.Berdasarkan kepada penggolongan inilah pengusahaan pelayaran dijalankan dan
demikian pula kapal apa yang harus dipakai dalam usaha itu, disesuaikan dengan jenis muatan
yang ingin diangkut.
A. Ditinjau dari jenis muatan kapal dibedakan antara:
1. General Cargo, yaitu muatan yang terdiri dari berbagai jenis barang yang
dikemas dan dikapalkan secara potongan. Pengapalan muatan ini pada umumnya terdiri
dari unit-unit kecil misalnya 25 peti, 60 pallet, 300 karung dll.
2. Bulk Cargo, yaitu muatan yang terdiri dari satu macam muatan yang tidak
dikemas yang dikapalkan sekaligus dalam jumlah besar. Muatan bulk ini biasa disebut
muatan curah karena memang cara memuat bulk cargo adalah dengan jalan
mencurahkanya ke dalam palkah kapal.
3. Homogenous Cargo, yaitu muatan yang terdiri satu macam barang yang
dikapalkan sekaligus dalam jumlah besar dalam keadaan dikemas (dibungkus), misalnya
muatan beras, semen dll.
B. Ditinjau dari segi ekonomi kapal, muatan kapal dapat dibedakan :
1. Deadweight Cargo, yaitu muatan yang ukuranya (volumenya) kurang dari 40 kaki
kubik dalam tiap ton. Muatan ini biaya pengangkutanya ditetapkan atas dasar berat
barang.
2. Measurment Cargo, yaitu muatan yang ukuran (volumenya) kurang lebih 40 kaki
kubik dalam satu ton. Muatan ini biaya pengangkutanya ditetapkan berdasarkan volume
barang.
C. Ditinjau dari sifat alamiahnya, dibedakan antara lain :
1. muatan padat;
2. muatan cair;
3. muatan gas yang dicairkan dibawah tekanan dan dibawah suhu yang sangat
rendah.
D. Ditinjau dari segi handling terhadap muatan, dapat dibedakan :
1. Dengerous Cargo (muatan berbahaya), yaitu muatan yang sifatnya mudah
terbakar, meledak, pada suatu keadaan dapat terbakar atau meledak baik karena
bahayanya sendiri maupun karena secara bersama-sama ditempatkan didalam suatu
ruangan dengan muatan lainya, atau karena mendapat reaksi kimia dari lingkunganya.
Juga termasuk dalam jenis muatan ini, muatan yang dapat menimbulkan gas yang dapat
meledak, uap yang mengandung racun dan yang gasnya kalau bersenyawa dengan udara
dapat meledak.
2. Reefer Cargo (Muatan yang Memerlukan Pendinginan), yaitu muatan yang harus
diangkut dalam keadaan dingin atau beku.
3. Long-Length Cargo dan Heavy-lift Cargo, yaitu muatan yang beratnya atau
panjangnya melebihi batas tertentu. Batas panjang muatan biasa lazimnya ditetapkan
sepanjang 6 meter sedangkan untuk berat batas berat muatan lazimnya ditetapkan seberat
2 ton.
FAKTOR-FAKTOR KONDISI PEMUATAN (CARGO HANDLING)
Pengusaha kapal selalu berusaha agar supaya kapalnya dapat melakukan pemuatan dengan baik,
artinya memuat dan memadatkan muatan sedemikian rupa sehingga ruang muatan dan daya
angkut kapal dapat didayagunakan secara maksimal, dan disamping itu muatan-muatan
dipadatkan sesuai dengan persyaratan yang dikehendakinya.
Untuk mewujudkan niat itu, beberapa faktor harus dipenuhi oleh muatan yang hendak dimuat,
oleh ruang muatan maupun cargo handling equipment yang harus dipergunakan bagi pemuatan
atau pembongkaran jenis-jenis muatan tertentu.
Faktor-faktor penting yang mempunyai pengaruh atas timbulnya kerusakan-kerusakan muatan
adalah sebagai berikut :
Pembungkus Muatan (kemasan, packaging)
Mengenai kemasan muatan pada umumnya dituntut oleh pengangkutan laut suatu syarat bahwa
kemasan harus disesuaikan dengan isinya, yaitu antara lain bahwa barang yang keras harus
dibungkus dalam peti yang kokoh supaya barang tersebut tidak dapat mendesak keluar dari
kemasanya.
Seperti diketahui dalam pelayaran, kapal mengalami berbagai macam kelakuan laut yang
menyebabkan kapal oleng dan atau berayun. Oleng atau ayunan kapal ini sudah barang tentu
menyebabkan muatan didalam kapal itu terayun mengikuti gerakan ayunan kapal, termasuk
ayunan alat pembungkus muatan tersebut, ataupun bergeser dari tempatnya.
Muatan yang berayun mengikuti gerakan pembungkusnya itu, akan dapat mendesak keluar dari
bungkusanya kalau pembungkus itu terbuat dari barang lunak sehingga tidak kuat menahan
desakan dari dalam.
Juga diminta syarat bahwa pembungkus itu harus tahan dan tetap berada dalam keadaan baik
selama dalam pelayaran dan setelah sampai dipelabuhan tujuanya dapat diserahkan kepada si
pemilik muatan dalam keadaan yang sama seperti keadaanya pada waktu dimuat di pelabuhan
pemuatan.
Merk pada Kemasan (shipping Mark)
Muatan yang diangkut oleh kapal, di pelabuhan tujuanya masing-masing harus diserahkan
kepada yang berhak atas muatan yang bersangkutan, yaitu consignee atau importirnya atau B/L
endorsee ataupun pihak lain lagi yang memegang hak atas muatan melalui penguasaan bill of
lading secara sah menurut hukum.
Untuk dapat melakukan penyerahan muatan dengan benar, pada peti atau jenis kemasan lainya
haruslah diterakan tanda-tanda tertentu yang sama dengan tanda yang dituliskan pada B/L atau
pada dokumen lain yang dapat digunakan sebagai bahan untuk verifikasi pada proses penyerahan
muatan (delivery cargo) di pelabuhan tujuan. Dokumen dimaksud adalah packing list, yaitu suatu
daftar yang menyebutkan tiap-tiap kemasan muatan, lengkap dengan informasi mengenai isi
(contents) dari tiap-tiap kemasan tersebut.
Shipping marks, yaitu tulisan dan tanda-tanda/lambang lain yang harus dicantumkan pada
kemasan muatan yang memberikan informasi mengenai; nama pengirim, nama penerima, nomor
peti, kode, logo atau lambang perusahaan pengirim muatan, dan lambang atau petunjuk
peringatan yang harus diturut oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan cargo handling.
Tanda-tanda dan lambang-lambang ini penting untuk memudahkan pembongkaran muatan yang
bersangkutan serta memudahkan untuk mengenal muatan-muatan yang harus dibongkar, cara
memperlakukan sesuatu kemasan muatan dan lain-lain persiapan dan perlakuan yang tepat yang
tidak merugikan muatan dan tidak membahayakan buruh yang mengerjakan pembongkaran
muatan.
Syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu tanda pada kemasan muatan adalah bahwa tanda
atau merk itu harus mudah dibaca dan tidak akan terhapus atau menjadi luntur catnya selama
pelayaran berlangsung.
Pada barang muatan yang tidak memungkinkan diberi tanda atau lambang, dapat ditempelkan
stiker yang berisikan tanda atau lambang dimaksud.
Perlengkapan Bongkar Muat
Peralatan yang dipergunakan untuk menyelenggarakan bongkar muat dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a. Ship’s derrick (derek kapal), adalah pesawat yang terdiri dari batang pemuat,
kerekan dan kabel baja yang digerakkan dengan bantuan winch. Pada sebuah kapal
biasanya terdapat beberapa derek disesuaikan dengan jumlah palkanya.
b. Shore Crane (kran Darat), yaitu pesawat tombak sagang yang ditempatkan diatas
dermaga pelabuhan.Pesawat ini dapat dipindah-pindahkan.
c. Floating Crane (kran Apung), yaitu pesawat bongkar muat yang dipasang pada
semacam rakit baja, dengan tombak atau menara yang tidak dapat diubah posisinya.
d. Shp’s Crane, yaitu kran yang dipasang pada kapal yang ditempatkan pada posisi
yang sama dengan penempatan derek kapal.
e. Gantry Crane, yaitu kran khusus untuk melayani pekerjaan bongkar muat peti
kemas.


Karya Tulis I Gede Pasek Suarjana

ImageImageImage

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.