Pamg cang sukses

SISTEM ANGKUTAN PETI KEMAS

SISTEM ANGKUTAN PETI KEMAS

Penggunaan peti kemas untuk angkutan barang telah berkembang pesat sejak dasawarsa tujuhpuluhan. Indonesia sudah ikut melibatkan diri dalam sistem angkutan peti kemas yang sudah berkembang luas dalam pola angkutan di dunia sebagai bagian dari perkembangan teknologi maju yang mencari upaya untuk mendapatkan efesiensi optimal. Peti kemas secara umum dapat digambarkan sebagai gudang yang dapat dipindahkan, yang digunakan untuk mengangkut barang, merupakan perangkat perdagangan dan sekaligus juga merupakan komponen dari sistem pengangkutan. Oleh karena komoditi yang diperdagangkan dalam perdagangan dunia jenisnya beraneka ragam, demikian juga arah pengangkutan dan sarana penunjangnya berbeda-beda, maka jenis peti kemas yang diperlukan bagi pengangkutan barang antar negarapun berbeda-beda pula. Jenis peti kemas yang banyak digunakan dalam perdagangan impor-ekspor adalah sebagai berikut :

a. Dry Cargo Container
Jenis peti kemas ini digunakan untuk mengangkut general cargo yang terdiri dari berbagai jenis barang dagangan yang kering      yang sudah dikemas dan tidak memerlukan perlakuan atau penanganan khusus.
b. Reefer Container.
Jenis peti kemas ini digunakan untuk mengangkut barang yang harus dikapalkan dalam keadaan beku seperti ikan segar, daging hewan dll.
c. Bulk Container
Peti kemas ini digunakan untuk mengangkut muatan curah seperti beras, gandum yang tidak dikemas. Konstruksinya tidak menggunakan pintu seperti lazimnya, melainkan hanya bukaan kecil dibagian bawah belakang. Untuk membongkar muatan curah, bagian depan peti kemas didongkrak dan pintu/bukaan kecil dibuka supaya muatan meluncur keluar. Pada pemuatanya, barang dicurahkan melalui bukaan yang berada pada atap peti kemas.
d. Open-side Container.
Peti kemas ini pintunya disamping, memanjang sepanjang peti kemas, tidak diberi pintu melainkan hanya terpal saja guna melindungi muatan dari pengaruh cuaca. Penggunaanya untuk pengapalan muatan tertentu yang tidak dapat atau sulit dimasukkan dari pintu yang biasa.
e. Soft Top Container.
Jenis peti kemas ini terbuka pada bagian atasnya, dari mana muatan diletakkan ke dalam peti kemas dan diambil dari sana pada  pembongkaranya. Bagian atas tersebut biasanya ditutup dengan terpal, untuk melindungi muatan terhadap pengaruh cuaca.
f. Open Top, Open Side Container.
Peti kemas ini bagian atas dan sisi-sisinya terbuka, jadi hanya berupa geladak dengan empat tiang sudut dan empat set lubang untuk memasukkan locking pin. Penggunaanya untuk pengapalan barang berat yang tidak perlu mendapat perlindungan terhadap
pengaruh cuaca.
g. Flat Rack Container
Peti kemas ini hanya terdiri dari landasan (plat form) saja, dan penggunaanya untuk pengapalan barang berat yang ukuranya sedikit melebihi luas peti kemas. Di kapal kontainer ini dikapal pemuatanya diletakkan diatas geladak.
h. Tank Container Jenis peti kemas ini berupa tanki baja berkapasitas 4.000 galon ( 15.140 liter) yang dibangun di dalam kerangka peti kemas, mirip seperti tanki yang dimasukkan kedalam peti kemas jenis open top-open side. Tank Container digunakan untuk mengapalkan bahan kimia atau bahan cair lainya.

UKURAN PETI KEMAS

Ukuran-ukuran peti kemas juga beraneka ragam, disesuaikan dengan sistem pelayaran serta trayek atau jurusan yang harus ditempuh oleh komoditi yang dikapalkan dengan menggunakan peti kemas dimaksud. Dari berbagai macam ukuran peti kemas tersebut, yang umum digunakan dalam perdagangan internasional di Indonesia adalah peti kemas 20 feet dan 40 feet. Adapun ukuran dan kapasitas selengkapnya dari peti kemas adalah sebagai berikut :

Klik Di sini =>>>  “UKURAN PETI KEMAS“<<<=

SISTEM PENGAPALAN PETI KEMAS

      Penerapan sistem pengangkutan dengan menggunakan peti kemas memungkinkan pengapalan door to door service, artinya bahwa pengapalan yang berlangsung dari pintu gudang eksportir dan berakhir pada pintu gudang importir, diurus/diselenggarakan oleh satu tangan.
Eksportir dan importir disatu pihak hanya berhubungan dengan satu perusahaan pengangkutan saja, tanpa mengingat bahwa barang yang mereka perdagangkan itu pengangkutanya secara fisik dilaksanakan oleh dua atau lebih perusahaan pengangkutan. Dalam rangka penyerahan door to door tersebut masing-masing pengangkutan menggunakan sarana transportasi yang berbeda-beda seperti truck, kereta api, kapal laut domestik, kapal laut ocean going, dimana sistem pengangkutan yang menggunakan berbagai macam sarana angkutan ini lazim disebut Multi Modal Transportation system. Pengangkutan yang melibatkan beberapa jenis sarana angkutan tersebut, sudah barang tentu memerlukan sistem kerjasama yang rapi agar tidak terjadi hambatan dan kerancuan dalam pelaksanaanya.
Sehubungan dengan itu maka sistem pengangkutan door to door service merupakan suatu sistem pengangkutan terpadu yang menekankan kerapian kerjasama antara jenis sarana angkutan satu dengan lainya. Untuk pengangkutan sambung menyambung yang melibatkan beberapa jenis sarana angkutan tersebut, hanya digunakan satu bill of lading saja yang disebut Combined Transport Bill of Lading yang dikeluarkan oleh ocean carrier.
Kondisi Pengapalan Peti Kemas
Pengapalan muatan dengan menggunakan peti kemas dapat diselenggarakan dalam beberapa cara dan kondisi sebagai berikut :

1. CY to CY (container yard to container yard)
Dalam kondisi CY to CY ini perjalanan peti kemas bermula dari CY di pelabuhan pemuatan dan berakhir pada CY di pelabuhan tujuanya. Dengan demikian peti kemas yang disiapkan di CY sudah berisi muatan karena sudah dilakukan stuffing di luar pelabuhan, jadi kondisi pengapalanya bisa juga disebut FCL to FCL (full container load to full container load).
2. CFS to CFS (Container freight Station to Container Freight Station)
Dalam kondisi ini maka peti kemas diisi muatan digudang CFS pelabuhan pemuatan, dari mana petikemas langsung dimuat ke kapal dan setibanya di pelabuhan tujuan, setelah dibongkar dari kapal langsung diangsur ke gudang CFS untuk di stripping.
3. CFS to CY (Container Freight Station to Container Yard).
Pada kondisi ini maka muatan di stuffing digudang CFS pelabuhan pemuatan dan setelah tiba dipelabuhan tujuan, langsung ditimbun di dilapangan penumpukan CY yang bersangkutan menunggu dikeluarkan oleh pemilik barang. Kondisi pengapalan ini terjadi bila beberapa shipment break bulk dikapalkan kepada satu consegnee, yang disebut juga LCLto FCL.
4. CY to CFS (Container Yard to Container Freight Station).
Pada kondisi ini peti kemas sudah di staffing di luar pelabuhan dan disiapkan di CY untuk dimuat dan sesampainya dipelabuhan tujuan langsung diangsur ke gudang CFS setempat untuk di stripping. Barang akan diambil oleh consignee masing-masing yang mempunyai Cosolidated Ocean Bill of Lading. Kondisi pengapalan ini terjadi bila seorang shipper mengapalkan beberapa shipment LCL kepada beberapa orang cosignee

PENGAPALAN MUATAN

Dalam pengangkutan dilaut, proses pengapalan (pengiriman) muatan sudah dimulai sejak Pembukuan muatan atau booking of cargo baru mengikat pengangkut kalau pembukuan itu oleh pengangkut telah dinyatakan diterima (accepted), dimana pernyataan itu dapat dibuktikan pada pendaftaran/pencatatan dokumen Shipping Instruction oleh pengirim atau ekspediturnya kepada pengangkut atau agenya. Namun demikian haruslah diingat bahwa SI bukan merupakan suatu dokumen yang mempunyai
kekuatan hukum. SI yang disebut juga Shipping Order (SO) tidak memuat ketentuan-ketentuan tentang hak dan kewajiban pihak-pihak didalam kegiatan pelayaran niaga tersebut. Shipping Instruction hanyalah satu tanda bukti telah dimulainya suatu hubungan hukum dan hubungan itu secara prinsip baru terjadi setelah proses pengapalan dimulai, yaitu setelah pemuatan barang ke kapal atau sejak persiapan-persiapan kearah itu dilakukan. Berbagai Istilah Yang Umum Dalam Operasional Peti Kemas
1. Full Container Load (FCL)
Dalam kondisi ini pengisian barang kedalam peti kemas dan menghitung jumlah barangnya dilakukan oleh shipper (eksportir), dan setelah diangkut ke pelabuhan diserahkan kepada pengangkut di Container Yard (CY).
2. Less Than Container Load (LCL)
Stuffing dilakukan oleh pengangkut di CFS, dimana muatanya diterima dari shipper. Pada kondisi ini biasanya muatan terdiri dari berbagai shipper untuk berbagai consignee di pelabuhan tujuan yang sama. Penyerahan barang dipelabuhan tujuan dilakukan di CFS setelah dilakukan stripping.
3. Depo Container
Adalah tempat penumpukan peti kemas kosong, berupa sebuah lapangan penumpukan yang diusahakan oleh seseorang atau badan usaha, dimana ditempat tersebut ditimbun peti kemas kosong dari berbagai pemilik untuk sewaktu-waktu sesuai DO yang
diserahkan peti kemas tersebut diambil untuk digunakan.
4. Equipment Interchange Receipt (EIR)
Merupakan dokumen sebagai hasil survey dan mencatat keterangan mengenai kondisi atau kerusakan pada bagian peti kemas, pada saat penyerahan atau peralihan tanggung jawab. EIR harus ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu yang menyerahkan dan yang menerima.

Alat Meanis Container

2 responses

  1. Ping-balik: Menu mengenai Perusaan Pelayaran dan isinya « I Gede Pasek Suarjana

  2. Ping-balik: alat mekanis container « I Gede Pasek Suarjana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s